Minggu, 02 Februari 2025

ANAK 10 TAHUN KENA KANKER MEDULLOBLASTOMA DI PANGKAL OTAK BERSIH DENGAN ECCT TANPA OPERASI

 Tahun 2018 Mohammad Razzan didiagnosa kanker otak ketika umurnya baru 10 tahun.Hasil pemeriksaan CT scan dan MRI menunjukkan jenis medulloblastoma. Dokter sarafnya menyarankan untuk operasi, tetapi beresiko karena menekan batang otak dan otak kecil. Dokter umum yang menanganinya akhirnya mencarikan alternatif dengan ECCT. Perkembanganya relatif lancar, keluhannya berangsur hilang seiring dengan reaksi pembuangan yang cukup ekstrim di awal pemakaian 1 bulan pertama, sakitnya hilang, motorik dan keseimbangan tubuh normal. Orangtuanya bekerja di rumah sakit, hanya takut memeriksakan anaknya ke dokter bedah sarafnya lagi maupun cek MRI, khawatir hasilnya tak sesuai dengan kondisi Razzan yang nampak baik-baik saja. Tetapi setelah 6 tahun pakai alat dan kondisinya baik-baik saja, akhirnya orangtuanya memberanikan diri untuk cek MRI, dan hasilnya CLEAR, tak nampak ada bekas kanker di otak Razzan. Kanker yang tumbuh di batang otaknya dan menyumbat saluran otak bersih tanpa operasi hanya dengan ECCT.

Gambar: Paling kanan: Hasil CT scan yang menunjukkan massa tumor pada periventrikel keempat yang menunjukkan jenis medulloblastoma disertai edema cukup luas di seluruh otak dan hasil scan ECVT yang menunjukkan aktifitas tinggi pada area batang otak dan otak kecil sebelah kiri yang menunjukkan aktifitas listrik tinggi yang berkorelasi dengan tekanan intrakranial; Kedua dari kanan: Hasil MRI setelah pemakaian ECCT selama 6 tahun yang menunjukkan kondisi otak yang normal, tak terdeteksi massa lagi (CLEAR); Kedua dari kiri: Hasil scan otak dengan ECVT yang menunjukkan adanya aktifitas abnormal pada area massa awal, tetapi ada peningkatan aktifitas abnormal pada area pineal, yang umumnya berkorelasi dengan aktivasi saraf vagus sebagai efek gangguan pencernaan, sesuai dengan keluhan Razzan terkait sering muncul sakit perut/maag; Paling kiri: Foto Razzan bersama Dr. Warsito pada akhir tahun 2024 yang menunjukkan kondisi Razzan yang sehat, pertumbuhan normal.


Awalnya ia mengeluhkan pusing kepala seperti berputar-putar setelah main gadget agak lama, diikuti muntah-muntah terus selama seminggu dan tak mempan dikasih obat CT scan dan MRI menunjukkan jenis medulloblastoma. Dokter sarafnya menyarankan untuk operasi, tetapi beresiko karena menekan batang otak dan otak kecil. Dokter umum yang menanganinya akhirnya mencarikan alternatif dengan ECCT.

Medulloblastoma adalah tumor otak ganas yang bermula di bagian belakang bawah otak yang disebut serebelum berfungsi dalam koordinasi otot, keseimbangan, dan motorik. Sel-sel medulloblastoma tumbuh dengan cepat dan dapat menyebar ke bagian otak lainnya melalui cairan otak (cerebrospinal fluid) yang mengelilingi dan melindungi otak dan sumsum tulang belakang.

Medulloblastoma dapat terjadi pada usia berapa pun, tetapi paling sering terjadi pada anak kecil dan merupakan salah satu kanker otak yang paling umum pada anak-anak. Medulloblastoma lebih sering terjadi pada keluarga yang memiliki riwayat kondisi yang meningkatkan risiko kanker. Gejala medulloblastoma terjadi ketika tumor tumbuh atau menyebabkan tekanan menumpuk di otak yang menimbulkan gejala seperti mual, muntah, pusing dan gangguan keseimbangan. 

Pasien yang didiagnosa kanker ini mempunyai prevalensi kematian 50X lebih tinggi dari rata-rata populasi. Tingkat survival rata-rata untuk kasus kanker ini mencapai 60% untuk 5 tahun dan 52% untuk 10 tahun untuk semua umur. Tingkat survival pada anak-anak relatif lebih tinggi mencapai 69% untuk tingkat survival 5 tahun.

Kanker medulloblastoma memiliki tingkat perkembangan (proliferasi) yang cepat, respon terhadap ECCT termasuk cepat; Semakin cepat berkembang semakin cepat sel mati apabila dipapar dengan medan listrik yang dihasilkan oleh perangkat ECCT. Posisi yang berada pada jalur pembuangan utama yaitu ventrikel keempat sangat membantu pembuangan sel-sel mati, mengalir mengikuti saluran cairan otak-sumsum tulang belakang ke usus dan keluar bersama feses. Razzan mengalami reaksi pembuangan yang cukup ekstrim berupa feses yang berbau sangat menyengat dan berwarna hitam beberapa hari setelah pemakaian alat ECCT berlangsung hingga kurang-lebih sebulan pertama. Seiring dengan reaksi pembuangan yang cukup ekstrim itu, sakit dan keluhan lain yang dirasakan oleh Razzan juga berangsur hilan, motorik dan keseimbangan tubuhnya kembali normal.

Setelah 6 tahun kondisi Razzan sangat baik, aktifitasnya normal, pertumbuhannya normal. Saat ini ia sedang sibuk dengan kegiatan belajar di bangku SMA.

Semoga tetap sehat buat Razzan (WS).

Kamis, 07 November 2024

PASCA OPERASI DAN RADIASI KANKER OTAK MENYEBAR MEMENUHI SEBAGIAN BESAR OTAK SEBELAH KANANNYA, BERSIH MELEWATI 10 TAHUN DENGAN ECCT

Bu Tosilah Wati didiagnosa kanker otak tipe astrocytoma tahun 2012, telah menjalani operasi dan radiasi tetapi muncul kembali dan berkembang luas hingga lebih dari separoh otak besar sebelah kanan, menyebabkan lumpuh separoh dan kejang terus. Kanker tak bisa ditahan dengan operasi dan radiasi, Bu Tosilah mencoba alternatif ECCT mulai awal Desember 2013. Kondisinya perlahan membaik seiring dengan peluruhan massa di otaknya. Dua tahun pemakaian massa mengecil, penyebaran dan edema luas di sekeliling massa awal relatif sudah hilang. 5Setelah 5 tahun pemakaian ia dinyatakan bersih. Melewati 10 tahun setelah pakai ECCT, atau 12 tahun sejak pertama didiagnosa kanker otak, kondisi Bu Tosilah sehat dan normal, terbebas dari kanker.



Gambar: Hasil MRI otak Bu Tosilah Wati sebelum terapi ECCT yang menunjukkan massa terus berkembang cepat meskipun telah operasi dan radiasi (atas-kanan); Perkembangan massa yang mulai menyusut setelah pemakaian ECCT hingga CLEAR setelah 5 tahun (Atas no.3 dari kanan);  Perkembangan aktifitas listrik massa tumor selama terapi hasil monitoring dengan ECVT; Foto Bu Tosilah Wati ketika melewati 5 tahun dan 10 tahun sejak pemakaian alat ECCT (bawah).

Bu Tosilah Wati pertama kali menjalani operasi tumor otak bulan Oktober 2012. Hasil patologi menunjukkan tipe ganas, jenis astrocytoma grade 1. Setelah operasi dan keluar hasil patologi ia menjalani radiasi hingga 30X. Tulang tengkorak belum sempat dipasang kembali, evaluasi awal kurang lebih 6 bulan setelah operasi dan radiasi hasil MRI menunjukkan massa muncul lagi di dua tempat di sekitar massa awal. Ukuran massa tumor terbaru 2 cm dan 4 cm, lebih besar dari hasil massa awal sebelum dioperasi. Gradenya sepertinya juga bertambah. 


Seiring dengan muncul lagi tumornya Bu Tosilah merasakan semakin hari keluhan semakin bertambah, kejang yang dialaminya makin hari makin bertambah. Hasil MRI setahun setelah operasi massa recurrence di posisi bekas operasi telah meluas lebih dari separoh otak besar sebelah kanan, mendesak otak kiri.melewati garis tengah otak. Dokter yang menanganinya memperkirakan bahwa Bu Tosilah tak bisa bertahan lebih dari 6 bulan.

Perkembangan kankernya tak bisa ditahan meskipun telah operasi dan radiasi, Bu Tosilah akhirnya mencoba alternatif ECCT mulai awal Desember 2013. Setahun setelah operasi sebelum pakai alat Bu Tosilah tak bisa memegang sesuatu dengan tangan kirinya. Untuk berdiri atau jalan ia harus berpegangan penyangga dengan tangan kanannya. Kejang dialaminya setiap 1-2 minggu sekali. 

Semua medis telah dijalaninya tetapi perkembangan kankernya tak bisa ditahan, Bu mencoba alternatif ECCT mulai awal Desember 2013. 

Kondisinya perlahan membaik seiring dengan peluruhan massa di otaknya. Setelah pakai alat ia masih mengalami kejang pada hari pertama, tetapi setelah itu berhenti. Kondisinya perlahan membaik seiring dengan pemakaian alat, 3 bulan pakai alat ia sudah bisa jalan tanpa pegangan.

2 tahun pemakaian massa mengecil signifikan, penyebaran luas di sekeliling massa awal relatif sudah hilang. Massa tumornya relatif baru hilang setelah 5 tahun pemakaian, relatif lambat dibanding karakter massa jenis astrocytoma dengan ECCT, sesuai dengan karakter tipe low grade glioma. 

Tipe low grade glioma dengan ECCT responnya relatif lambat dibanding tipe high grade (astorcytoma maupun glioblastoma). Sel-sel matinya dengan pemakaian alat mengalami lysis (pecah sel) keluar dalam bentuk lendir yang relatif agak liat karena banyak mengandung senyawa lipida (lemak); Apabila sistem imun tubuh baik bisa keluar dalam bentuk dahak dan pup yang cenderung lengket atau liat. Karena kandungan lemak yang tinggi pembuangan sering terhambat, sel-sel mati mudah mengendap di area sekitar massa tumor awal, menyebabkan edema. Untuk membantu proses pembuangan tipe ini perlu konsumsi asupan makan yang banyak mengandung flavonoid guna membantu mengurai senyawa lipida (lemak), banyak konsumsi albumin dan elektrolit guna menyerap cairan yang menumpuk yang menyebabkan edema. Cairan edema sering terjadi apabila kadar albumin dan elektrolit darah turun. Penumpukan cairan edema bisa mengakibatkan peningkatan tekanan intrakranial dan penurunan klinis.

Tipe low grade glioma dengan ECCT umumnya baru mengalami penyusutan setelah 6-12 bulan dengan spesifikasi alat ECCT terbaru dengan pengguanaan 2X1-2 jam per hari, dibanding dengan tipe astrocytoma yang bisa menyusut dalam kurun waktu 3-6 bulan atau glioblastoma dalam kurun waktu 1-3 bulan dengan spesifikasi alat dan jam penggunaan yang sama. 

2024 Bu Tosilah berhasil melewati 10 tahun setelah pakai ECCT, atau 12 tahun sejak pertama didiagnosa kanker otak. Kondisinya sehat dan normal, terbebas dari kanker. 

Semoga tetap sehat buat Bu Tosilah(WS). 

Sumber:  https://ecctcancersurvivors.blogspot.com/2024/10/pasca-operasi-dan-radiasi-kanker-otak.html

Senin, 24 Februari 2014

Apa itu Kanker Kolorektal?

Kanker kolorektal berasal dari jaringan usus besar (bagian terpanjang dari usus besar besar) atau rektum, (bagian kecil terakhir dari usus besar sebelum anus). Sebagian besar kanker kolorektal adalah tipe kanker adenocarcinomas (Kanker yang berasal dari sel yang membuat dan melepaskan lendir atau cairan lainnya).
  Anatomi Usus besar dan Rektum
     
Apa yang jadi penyebabnya?    
  Tidak ada yang mengetahui apa yang menjadi penyebab pasti terjadinya kanker kolorektal. Akan tetapi, diketahui beberapa orang dengan faktor resiko tertentu sangat mungkin terkena kanker kolorektal. Studi menunjukkan beberapa faktor resiko untuk kolorektal kanker, antara lain:
     
     

Polip Kolorektal

Polip tumbuh pada dinding bagian dalam usus besar atau rektum dan biasanya terjadi pada mereka yang berusia di atas 50 tahun. Polip umumnya tidak memiliki sifat kanker namun beberapa polip (adenomas) dapat berubah menjadi kanker.
 

Ulcerative colitis atau Crohn’s disease

Bila seseorang pernah terkena kondisi yang menyebabkan terjadinya radang usus besar, (Seperti ulcerative colitis atau Crohn’s Disease) selama beberapa tahun, maka ia memiliki resiko lebih tinggi untuk terkena kanker kolorektal
     

Riwayat kanker pribadi

Bila sesorang sudah pernah terkena kanker kolorektal, ia bisa kembali terkena kanker tersebut untuk kedua kalinya. Wanita dengan riwayat kanker ovarium, rahim (endometrium) atau kanker payudara juga memiliki resiko lebih tinggi terkena kanker kolorektal.
 

Riwayat medis keluarga dengan kanker kolorektal

Bila Anda memiliki keluarga dengan riwayat terkena kanker kolorektal, maka Anda memiliki resiko terkena kanker yang sama, khususnya apabila saudara Anda terkena kanker diusia yang muda.
     

Faktor gaya hidup

Mereka yang merokok, mengkonsumsi makanan yang kaya akan daging merah atau daging yang diproses dan kurang serat, memiliki peningkatan resiko terkena kanker kolorektal.
 

Usia di atas 50 tahun

Kanker kolorektal sangat mungkin terjadi pada saat usia seseorang bertambah. Lebih dari 90 persen pasien yang terdiagnosa dengan kanker kolorektal adalah mereka yang berusia 50 tahun ke atas.
 

Gejala-gejala

Gejala kanker kolorektal meliputi:
  • Perubahan kebiasan BAB (diare atau konstipasi)
  • Perasaan bahwa perut tidak sepenuhnya kosong
  • Terdapat darah (merah cerah atau pekat) pada BAB Anda
  • Ukuran BAB Anda lebih kecil dari biasanya
  • Sering mengalami kram perut atau sakit akibat gas lambung, atau merasa kembung
  • Kehilangan berat badan tanpa alasan
  • Selalu merasa letih
  • Sering terasa mual atau muntah-muntah
Seringkali, gejala-gejala ini mungkin saja bukan disebabkan oleh kanker. Kondisi kesehatan lain pun dapat menimbulkan gejala-gejala tersebut di atas. Sekedar mengingatkan, kanker pada tahap awal umumnya tidak menimbulkan rasa sakit. Karena itu bagi siapa saja yang merasa mengalami gejala tersebut di atas, disarankan untuk segera menemui dokter untuk melakukan diagnosa dan menerima pengobatan sesegera mungkin.
 


Skrining

Tes skrining akan membantu dokter untuk menemukan polip atau kanker sebelum Anda terkena gejala-gejala kanker. Deteksi dini untuk kanker kolorektal dapat membantu efektivitas pengobatan kanker. Tes skrining berikut dapat digunakan untuk menemukan polip, kanker, atau kondisi abnormal lainnya.
 


Fecal Occult Blood Test (FOBT)

Kadangkala ketika kanker atau polip mengalami pendarahan, Prosedur FOBT dapat menemukan darah dalam BAB Anda dalam jumlah terkecil. Bila tes ini menemukan darah, maka tes lain akan diperlukan untuk menentukan sumber dari darah tersebut. Kondisi yang tidak berbahaya (seperti wasir) dapat juga menyebabkan adanya darah pada BAB.
     

Sigmoidoscopy

Dokter akan memeriksa rektum dan bagian bawah usus besar dengan sigmoidoscope. Pertumbuhan kanker dan pra-kanker pada rektum dan usus besar bawah dapat ditemukan yang kemudian diangkat atau dilakukan biopsi.
 

Kolonoskopi

Dokter memeriksa rektum dan seluruh bagian usus besar menggunakan kolonoskop. Pertumbuhan kanker dan pra-kanker pada rektum dan usus besar bawah dapat ditemukan yang kemudian diangkat atau dilakukan biopsi, termasuk juga pada bagian usus besar bagian atas, di mana bagian tersebut tidak tercapai dengan sigmoidoscopy.
     

Double-contrast barium enema

Prosedur ini melakukan pengisian usus besar dan rektum menggunakan barium untuk meningkatkan kualitas foto X-Ray. Kelainan/Kondisi abnormal seperti polip dapat terlihat dengan jelas.
 

Kolonoskopi Virtual

Prosedur tes ini menggunakan perangkat X-Ray khusus untuk mengambil foto/gambar usus besar serta rektum. Komputer kemudian akan menyusun gambar-gambar yang diambil menjadi citra detil yang dapat menunjukkan polip dan kondisi abnormal lainnya.
 

Diagnosa

Bila Anda memiliki gejala-gejala, atau hasil tes skrining menunjukkan tanda-tanda kanker kolorektal, dokter Anda harus mencari tahu apakah hal tersebut bersumber dari kanker atau kondisi medis lain.
Dokter akan menanyakan riwayat medis pribadi serta keluarga, dan akan melakukan pemeriksaan fisik.
Bila ditemukan kondisi abnormal (polip), maka akan diperlukan biopsi. Umumnya, jaringan abnormal dapat diangkat melalui prosedur kolonoskopi atau sigmoidoscopy. Spesialis patologi kemudian akan memeriksa apakah jaringan tersebut merupakan sel kanker dengan menggunakan mikroskop.
  Bagaimana Cara Memeriksa Kanker Kolorektal?
Bilamana hasil biopsi menunjukkan adanya kanker, dokter perlu mengetahui seberapa jauh penyebaran kanker telah terjadi untuk memberikan rencana pengobatan terbaik. Stadium dibuat berdasarkan apakah tumor telah menyebar ke jaringan tubuh sekitar, dan apabila sudah menyebar, ke bagian tubuh mana kanker tersebut sudah menyebar.
     
Dokter mendeskripsikan kanker kolorektal dengan beberapa stadium:
  • Stadium 0: Di mana kanker ditemukan hanya pada lapisan terdalam usus besar atau rektum. Kanker kolorektal stadium 0 ini umumnya disebut Carsinoma in situ.
  • Stadium I: Tumor sudah tumbuh ke dinding bagian dalam usus besar atau rektum, namun belum menembus dinding tersebut.
  • Stadium II: Tumor sudah menembus dinding lapisan usus besar atau rektum. Ada kemungkinan tumor telah menyebar ke jaringan tubuh terdekat, namun sel kanker belum menyebar ke kelenjar getah bening.
  • Stadium III: Tumor telah menyebar masuk ke dalam kelenjar getah bening, namun belum menyebar ke bagian/jaringan tubuh lain.
  • Stage IV: Kanker telah menyebar ke organ tubuh lain seperti hati, atau paru-paru.
  • Kambuh: Kanker yang telah diobati ini kembali kambuh setelah beberapa waktu saat kanker tidak dapat dideteksi. Kanker dapat kembali tumbuh pada bagian usus besar atau rektum, atau pada organ tubuh lainnya.
 

Apa saja pengobatan yang tersedia?

Pembedahan

Bedah melibatkan pengangkatan jaringan yang terjangkit tumor dan jaringan terdekat/ kelenjar getah bening. Prosedur bedah dilakukan dengan menggunakan laparoskopi atau bedah terbuka.

Kemoterapi

Kemoterapi menggunakan obat-obatan anti kanker guna menyusutkan ukuran atau membunuh sel kanker. Obat-obatan masuk melalui aliran darah sehingga dapat mencapai sel kanker di seluruh tubuh.

Terapi Kanker Terarah

Beberapa pasien dengan kanker kolorektal yang telah menyebar menerima pengobatan terapi kanker terarah. Terapi terarah ini berupa obat-obatan atau zat lain yang berfungsi untuk menghambat pertumbuhan dan penyebaran sel kanker dengan mentargetkan molekul-molekul spesifik yang membantu pertumbuhan dan penyebaran sebuah tumor.

Terapi Radiasi (Radioterapi)

Prosedur ini menggunakan sinar berenergi tinggi untuk membunuh sel kanker. Prosedur ini hanya mempengaruhi sel kanker yang ada pada area terapi.

Sumber: http://www.parkwaycancercentre.com/id/informasi-kanker/jenis-kanker/apa-itu-kanker-kolorektal/

Polip Kolon

Apa Yang Dimaksud Dengan Polip Kolon?

Polip Kolon adalah suatu kondisi medis yang ditandai dengan pertumbuhan tambahan pada permukaan lapisan dalam usus besar. Polip terbentuk sebagai akibat dari pertumbuhan sel yang tidak terkendali. Hal ini mungkin dikarenakan oleh mutasi pada gen yang membantu mengatur pertumbuhan sel, yang menyebabkan sel-sel terus membelah meskipun hal itu sudah tidak diperlukan lagi. Mutasi adalah perubahan dari susunan rantai DNA suatu sel. Ada empat tipe dari polip kolon: polip hiperplastik, polip inflamatori, polip hamartoma, dan polip adenomatosa. Polip adenomatosa adalah tipe polip kolon yang paling sering ditemukan dan menyebabkan kanker sedangkan polip hiperplastik, inflamatori, dan hamartoma tidak menyebabkan kanker. 
 

Tanda dan gejala Polip Kolon yang mungkin timbul:

  • Darah di dalam tinja
  • Mual
  • Muntah-muntah
  • Pendarahan rektum
  • Sakit perut
 

Penyebab Polip Kolon adalah:

Risiko terjangkit Polip Kolon meningkat bila Anda:

  • Adalah seorang pecandu alkohol
  • Adalah seorang perokok
  • Adalah seorang Yahudi Ashkenazi keturunan Eropa Timur
  • Berusia lebih dari 40 tahun
  • Memiliki sejarah keluarga yang menderita Kanker Kolon
  • Memiliki sejarah keluarga yang menderita Polip Kolon
  • Menjalani gaya hidup yang tidak banyak bergerak
  • Sedang menderita Kolitis Ulseratif
  • Sedang menderita Obesitas
  • Telah didiagnosa mengidap Penyakit Crohn

Polip Kolon dapat menyebabkan komplikasi sebagai berikutnya:

  • Mungkin memiliki resiko yang lebih tinggi untuk Kanker Kolon

Polip Kolon dapat dicegah bila Anda:

  • Berhenti merokok
  • Berolahraga secara rutin
  • Jauhkan diri dari alkohol
  • Menjaga diet kaya akan kalsium
  • Menjaga diet rendah lemak
  • Menjaga diet tinggi serat

Penanganan dan pengobatan Polip Kolon dapat berbeda tergantung pada kondisi pasien dan penyakit yang dideritanya. Pilihan pengobatan adalah:

  • Anastomosis
  • Kolektomi
  • Kolonoskopi
  • Obat Laktulosa
  • Reseksi Mukosa Endoskopik

Sumber: http://www.persify.com/id/perspectives/medical-conditions-diseases/polip-kolon-_-951000103333

Apa Itu Kanker dan Tumor? Apa Bedanya?

DokterSehat.com – Sering kita mendengar istilah kanker dan tumor tetapi hanya sedikit orang saja yang benar-benar memahami apa perbedaan tumor dan kanker itu. DokterSehat akan mencoba membantu memberikan sedikit penjelasan masalah ini untuk mencegah kesalah pahaman dan kesalahan dalam penggunaan kata.
Tumor sebenarnya adalah pembengkakkan yang disebabkan oleh adanya inflamasi atau peradangan dan pertumbuhan jaringan yang abnormal di dalam tubuh. Tipe tumor berdasarkan pertumbuhannya dapat dibedakan menjadi tumor ganas (malignant tumor) dan tumor jinak (benign tumor).
Nah, tumor ganas ini sering juga disebut dengan bersifat Kanker. Tetapi kemungkinan tumor jinak menjadi ganas bisa saja tapi sangat jarang terjadi, biasanya pada Tumor yang sudah terlalu lama dan besar. Misalnya Fam (Fibroadenoma mamma), tumor jinak payudara bila dibiarkan bertahun-tahun ada yang berubah jadi ganas, ini dikenal sebagai Progressi, persentase kemungkinannya kira-kira hanya 0,5 % -1% saja.
Ketika seseorang bertambah usia, mereka akan mengakumulasi berbagai mutasi di dalam DNA-nya. Ini berarti prevalensi terjadinya tumor semakin meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Pada kasus dimana seseorang yang lebih tua menderita tumor, maka besar kemungkinannya bahwa itu adalah tumor yang ganas. Sebagai contoh, jika perempuan berumur 20 tahun memiliki tumor di payudaranya, maka tumor itu kemungkinannya adalah tumor jinak. Namun, jika perempuan berusia 70 tahun memiliki tumor payudara, maka tumor itu kemungkinannya adalah tumor ganas.
Tumor disebabkan oleh mutasi DNA di dalam sel. Akumulasi dari mutasi-mutasi tersebut menyebabkan munculnya tumor. Sebenarnya sel kita memiliki mekanisme perbaikan DNA (DNA repair) dan mekanisme lainnya yang menyebabkan sel merusak dirinya dengan apoptosis jika kerusakan DNA sudah terlalu berat. Apoptosis adalah proses aktif kematian sel yang ditandai dengan pembelahan DNA kromosom, kondensasi kromatin, serta fragmentasi nukleus dan sel itu sendiri. Mutasi yang menekan gen untuk mekanisme tersebut biasanya dapat memicu terjadinya kanker.
Kanker sendiri sebenarnya adalah istilah untuk segolongan penyakit yang ditandai dengan pembelahan sel yang tidak terkendali dan kemampuan sel-sel tersebut untuk menyerang jaringan biologis lainnya, baik dengan pertumbuhan langsung di jaringan yang bersebelahan (invasi) atau dengan migrasi sel ke tempat yang jauh (metastasis). Pertumbuhan yang tidak terkendali tersebut disebabkan kerusakan DNA, dan bahkan menyebabkan mutasi di gen vital yang mengontrol pembelahan sel. Beberapa buah mutasi mungkin dibutuhkan untuk mengubah sel normal menjadi sel kanker. Mutasi-mutasi tersebut sering diakibatkan agen kimia maupun fisik yang disebut karsinogen. Mutasi dapat terjadi secara spontan (diperoleh) ataupun diwariskan (mutasi germline).
Hal ini sangat berbeda dengan benign tumor (tumor jinak) yang tidak menyerang jaringan di sekitarnya dan tidak membentuk metastase, tapi secara lokal dapat bertumbuh menjadi besar. Biasanya benign tumor tidak muncul lagi setelah dilakukan operasi pengangkatan tumor.
Yang perlu diperhatikan disini bila tak terawat, kebanyakan kanker menyebabkan kematian; kanker adalah salah satu penyebab utama kematian di negara berkembang. Kebanyakan kanker dapat dirawat dan banyak disembuhkan, terutama bila perawatan dimulai sejak awal. Banyak bentuk kanker berhubungan dengan faktor lingkungan yang sebenarnya bisa dihindari. Merokok tembakau dapat menyebabkan banyak kanker dari faktor lingkungan lainnya. Oleh karena itu sebisa mungkin hindari merokok ! Sangat tidak baik untuk kesehatan.